Tutup aja artikel ini kalo seandainya lu ga suka hal yang berbau sepak bola, jangan buang waktu lu untuk membaca hal yang ga penting seperti ini.

Beberapa hari yang lalu, kalian mungkin sudah tau atau denger, Sir Alex Ferguson (manajer klub Manchester United-bagi yang belum tau) akhirnya melepas tampuk kekuasaannya yang sudah dia bangun selama 26,5 tahun. Ya, dia memutuskan pensiun diusia ke 71 tahun setelah mempersembahkan gelar ke 20 buat Manchester United. Dunia sepak bola, mungkin dunia pada umumnya terkejut dengan keputusan tersebut. Hanya dalam hitungan satu jam, kicauan di twitter mencapai sekitar 1,4 juta kicauan dengan hastag #siralex ataupun #thankyousiralex. Dengan kecepatan rata-rata sekitar 13000 tweet per menit, bahkan lebih mencuri perhatian daripada meninggalnya mantan PM inggris yang meninggal dunia sekitar sebulan sebelumnya (RIP Lady Tatcher). Berita ini terus bergulir dan mengambil perhatian, situs booking hotel lastminute.com mencatat ada kenaikan 40% pemesanan hotel di kota Manchester. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat atau mungkin wisatawan luar negeri yang ingin menyaksikan seremoni penyerahan piala BPL ke 20, laga terakhir dan pesta perpisahan Sir Alex Ferguson yang digelar hari minggu ini (12/5) di Old Trafford. Gue juga yakin ga bakal ada yang mempedulikan/ingat bahwa sang 'tetangga berisik' Manchester City sedang menjalani partai final piala FA semalam sebelumnya.
Terserah lu menganggap gue latah, disaat semua membicarakan/ menulis tentang pensiunnya Sir Alex Ferguson dan gue ikut-ikutan nulis tentang dia. Mungkin lu juga bertanya-tanya kenapa gwe nulis tentang Sir Alex Ferguson bukan tentang Manchester United klub yang gwe cintai. Tentu kalian ingat beberapa bintang United (sebutan untuk Manchester United) misalnya Jaap stam, Heinze, Beckham, Nistelrooy hingga Ronaldo pergi dari Old Trafford . Hengkang karena perselisihan ataupun ataupun pergi secara baik-baik, tetapi United selalu membuktikan masih bisa bersaing tiap tahun untuk gelar juara. Karena dalam prinsip Sir Alex Ferguson tidak ada pemain yg lebih besar daripada klub, dan Sir Alex Ferguson adalah Manchester United itu sendiri. Jadi alasan gwe nulis tulisan ini, karna ini adalah Sir Alex Ferguson dan karena dia adalah Manchester United.
Pagi itu (rabu 8/5) gue bangun seperti biasa, tetapi ada yang tak biasa di Tab gwe. Puluhan mesej masuk digroup whatsapp United-isme, hal yang jarang terjadi di midweek. Selain gue tau tidak ada pertandingan United pada dini hari, dan juga United sudah memenangkan gelar ke 20-nya membuat gue ga begitu peduli dengan hal lainnya. Beberapa teman digroup berujar betapa liar dan memanasnya isu tentang pensiunnya Fergie (sapaan Sir Alex Ferguson). Dalam hati gue "what a joke?!", meski diiringi gwe sambil membuka beberapa portal berita bola. Hanya ada sedikit yang memberitakan gosip murahan tersebut. Tetapi hari itu terasa lain, gue ga pernah merasa sewas-was ini. Sesampai ditempat kerja gue beberapa kali mengecek laman resmi klub dan me'refresh'nya berulang-ulang. Hingga di sore harinya (gue lupa jam berapa, mungkin sekitar jam setengah empat) gue baca peryataan resmi klum kalo Fergie memutuskan pensiun. Sejenak gue terdiam, mencerna dan perasaan seperti ini lama sekali ga gue rasakan. Perasaan yang gue dapat seperti ketika Ibu gue meninggal (terdengar lebay mungkin), memencoba tidak mempercayainya, mencoba menguatkan diri, mencoba berpikir positif, dan akhirnya mencoba menerimanya. Setelah terdiam dan menghela nafas, gue berujar "akhirnya dia pensiun" kepada beberapa teman di kantor yang mengerti tentang bola. Mungkin beberapa orang berkata (baik dalam hati ataupun secara terang-terangan) "oh man... cmon, ini cuman sepak bola dan bahkan ga ada orang yang meninggal!". Tetapi gue tekankan sekali lagi ini adalah Sir Alex Ferguson dia adalah Manchester United. Seseorang yang selalu dipinggir lapangan mengawasi, menemani sekaligus mengarahkan tim kesayangan gue, bahkan jauh sebelum gue memutuskan untuk menjadi seorang fans United saat gwe kelas satu SMP ditahun 1994. Seseorang yang selalu gue lihat dan selalu mendampingi United gue, yang selama 19 tahun (lebih dari separuh umur gue) memberikan drama-drama dalam kehidupan gue, memberi rasa kemenangan saat gue merasa kalah dalam hidup ataupun mengajak kita kembali memijak bumi dengan memberikan pelajaran arti dari sebuah kekalahan, dan memberikan banyak contoh filosofi sepak bola yang banyak bisa kita terapkan dalam pekerjaan kita.
Gue bukan 'Diehard United Fans', gue bahkan belum pernah ke Old Trafford. Sebagai seorang pemalas, gue juga bukan tipe yang suka baca wikipedia tentang United agar terlihat expert soal United. Tetapi ketika ditanya apa agama gue, biasanya gue jawab :Manchester United (bisa di cek diprofile fb gue,…mayan ga penting). Seandainya Manchester United adalah agama gue, lalu apakah Sir Alex Ferguson adalah 'Tuhan' gue?. Ah entahlah. Tahun lalu, seorang teman gue (yang hobi dugem) mendapat kesempatan pergi ke acara Tomorrow Land (sebuah acara dugem level international). Gue bilang ke dia "ah, akhirnya naek haji juga lu". Entah apa nanti yang gue rasakan seandainya gue 'naek haji' ke Old Trafford, tapi tidak menjumpai sang 'Tuhan' berada di sisi medan peperangan mendampingi para martirnya. Paling tidak apa yang disuratkan dalam 'perjanjian lama' telah dia genapi dalam sepanjang era 'perjanjian baru' premier league. Tentu kita masih ingat ketika Fergie berkata "My greatest challenge was knocking Liverpool right off their f***ing perch, and you can print that." Terdengar arogan memang, tetapi hal itu dia ucapkan jauh sebelum United bisa menggungguli perolehan gelar Liverpool (yang terhenti diangka 18 selama puluhan tahun) dan akhirnya bisa tergenapi dengan diraihnya gelar ke19 United di musim 2010/2011. In Fergie we Trust!.
Tribut untuk Sir Alex Ferguson terus mengalir, diantaranya dari manager/ pelatih rival baik dari BPL ataupun klub-klub lain didunia. Saat ini gue yakin Arsene Wenger, Rafa Benitez, atau Jose Mourinho tersenyum sinis dan senang karena salah satu saingan terberat mereka telah pensiun. Tetapi gue yakin perasaan itu hanya 10% saja, sedangkan 90% lainya adalah kepedihan yang mendalam karena kehilangan musuh abadinya. Seperti kegalauan yang dialami Megamind saat ditinggalkan Metroman, dia ga tau harus 'bersenang- senang lagi dengan siapa. Semua yang didapatkan Megamind begitu tidak berharga tanpa adanya perlawanan yang berarti, BPL musim depan tak akan pernah sama lagi tanpa Fergie disisi lapangan (tapi apakah Fergie akan melakukan Comeback seperti Metroman?). Khusus untuk Jose Mourinho, saat ini mungkin dia mengalami pergumulan batin yang luar biasa, disaat isu berhembus kencang comebacknya ke BPL/ Chelsea serta berharap akan bisa bersaing dengan ketat bersama Fergie di BPL disaaat yang sama dia ditinggalkan Fergie. Bagi yang pernah menjadi rival tentunya tahu sosok Fergie, seorang pelatih yang sulit di lawan, suka melakukan psywar, menjengkelkan atau bahkan kekanak-kanakan. Tetapi mereka tentunya ingat, setelah adu taktik dilapangan yang begitu menguras energi Fergie menyambut mereka dengan hangat di ruang khusus pelatih dengan sebotol wine yang berkualitas. Dia adalah 'ayah' dari manager lain, figur yang dibutuhkan manager lain/ pemain muda yang membutuhkan petuah bijak untuk dapat mengembangkan kemampuannya. Seharusnya gue ga berusaha menepikan tanda-tanda pensiunnya Fergie, bahkan sebelum pensiun pun dia sudah mendapat tribut khusus berupa patung Fergie dan nama tribun 'Sir Alex Ferguson Stand' di dalam Old Trafford. Kurang jelas apa coba?!.
Akhirnya penerus dinasti Fergie sudah terpilih pada diri David Moyes. Apakah David Moyes akan menjadi 'Tuhan' gwe selanjutnya?, kita lihat saja nanti. Yang pasti pemilihan Moyes bukan tanpa alasan, Fergie tau betul siapa dia, pribadinya, loyalitasnya, etos kerjanya membawa kestabilan di Everton selama satu dasawarsa lebih. Dengan warisan pemain dari Fergie semacam RVP, Rooney, Kagawa, Cleverley, Jones, Evans, Smalling, Rafael, Buttner, De gea, Zaha, dan beberapa pemain akademi yang sudah matang, gwe kira Moyes tidak akan terlalu sulit meneruskan kesuksesan Fergie.
Terima kasih Sir Alex Ferguson untuk pelajaran, pengalaman dan kenangan-nya.